Hitam. Kelam. Tempat macam
apa ini sebenarnya? Benar-benar gelap hingga kau tak akan menyadari jika kau
berada di suatu tempat. Dan kau pun tak dapat merasakan dirimu sendiri. Mati
rasa. Tidak, ini tidak beres. Sebaik-baiknya jalan adalah keluar dari tempat
ini. Tapi bagaimana mungkin? Menggerakan kakipun sudah tak bisa. Semua orang
pasti akan putus asa jika berada disini.
Tempat ini basah. Dingin dan
lembab. Yang akan kau sadari kali ini ialah kau sebenarnya terperangkap.
Terperangkap dalam tempat yang sempit dan mengerikan. Berteriak pun sepertinya
adalah hal yang sia-sia. Tak ada orang yang akan mendengarnya. Sudah dibilang
inilah tempat keputus asaan.
Paru-paru sudah mulai terisi
penuh oleh air hingga kau merasa sesak nafas. Mencoba untuk berteriak saja
sudah tak mampu. Aku berada dalam dasar sumur keputus asaan. Selama
mungkin aku mencoba untuk bertahan tapi tetap saja inilah keputus asaan! Hanya rasa
pesimislah yang menguasaiku. Semua kata kematian seakan-akan berada dalam
otakku hingga pada akhirnya pikiran itu berubah menjadi nyata...
Nafasku tersengal-sengal. Mimpiku benar-benar buruk. Mimpi macam apa tadi? Sumpah! Aku tak dalam keadaan tertekan sekarang. Mimpi itu tak wajar.
Tenggorokanku terasa kering lantas aku langsung meneguk segelas air mineral. Tubuhku berkeringat padahal ini musim gugur dan cuaca malam ini cukup dingin. Aku menelan ludah berusaha menenangkan
batinku. Berulang kali aku menarik nafas tapi tetap saja itu tak berhasil.
Bulu kudukku tetap berdiri, jantungku tetap berdebar dengan kencang.
Sekali lagi aku memejamkan mata. Gelap. Aku merasa lebih takut. Tapi rasa takut itu lebih
kecil dibandingkan apa yang sedang aku lihat
sekarang.
Nafasku terhenti tapi bayangan wanita itu tetap mendekatiku. Semakin dekat
bayangan itu terlihat semakin jelas. Wanita itu memakai gaun zaman Victory,
gaun yang megah berwarna merah marun yang aku yakini pada zamannya
itu adalah gaun yang terbaik. Tapi sekarang gaun itu terlihat sangat
menyeramkan. Banyak bercak darah yang menempel pada gaunnya serta sobek tercabik-cabik.
Aku tak bisa bergerak.
Mengedipkan mata pun tak bisa. Dengan segala keterpaksaan aku menahan rasa takut untuk melihat penampakan wanita itu. Kali ini wajahnya
tepat berada didepan mataku. Wajahnya sangat pucat. Eye liner yang menghiasi wajahnya luntur begitu saja akibat air
matanya mengalir. Aku tak bernafas sekarang. Bisakah aku melarikan diri?
Wanita itu terus menatap
tepat pada mataku. Tatapannya sungguh mengerikan―menyedihkan. Iya, wanita itu sedang merasa tersiksa.
“Pikirkan pilihan terbaik, itu menyelamatkanmu...” bisik wanita itu. Aku menelan ludahku lagi, itu
benar-benar mengerikan-terdengar seperti
ancaman.
Saat aku mulai berani untuk menatap wanita itu, ia bergerak menjauh. “Si..si..siapa kau?!” teriakku terbata-bata. Tapi wanita itu tetap menjauh. Aku mengikutinya―akhirnya aku bisa bergerak kembali! Semakin aku mengejarnya, semakin samar pula wanita itu. Mulanya wanita itu bagaikan bayangan tembus pandang hingga akhirnya ia menghilang.
Menghilang tepat ke dalam cermin.
Aku masih dapat
melihatnya. Wanita itu masih muda―mungkin saja seumuran denganku―wajahnya berbentuk oval hati, mukanya pucat, matanya berwarna hijau permata-seperti zamrud,
bibirnya kecil, rambutnya berwarna cokelat perunggu yang ia sanggul namun
sanggulannya sungguh berantakan. Tatapan wanita itu menggambarkan penderitaan
sebelum akhirnya berubah menjadi tatapan ketakutan. Gaun yang dikenakan wanita
itu berubah menjadi piama putih kotak-kotak hitam, akan tetapi bercak darah itu
masih berada pada tempatnya. Mengerikan! Darah itu mengalir dari perutnya.
Refleks tanganku meraba perutku.
Tunggu! Ini tidak mungkin!
Tidak! TIDAK MUNGKIN! INI TAK MUNGKIN TERJADI!
Wanita bergaun merah itu adalah... wanita yang terluka itu... wanita yang ada dalam cermin itu
adalah... Aku...
*****
Suara teriakanku begitu lantang. Aku berteriak sejadi-jadinya. Demi Tuhan! Darah itu
benar-benar mengalir dari perutku. Darah itu seakan-akan berasal dari luka
tusukkan. Nafasku begitu cepat tak beraturan. Teriakanku masih menggema. Aku tak bisa menghentikan teriakan histeris ini. Aku benar-benar ketakutan.
Walaupun aku sudah meronta-ronta kesakitan, berteriak sekencang-kencangnya tetap saja tak
ada yang datang menolong. Aku bersumpah jika aku masih berada dalam
kamar. Mengapa orang tuaku tak datang menolong? Aku berteriak sekali lagi. Mereka tak kunjung datang.
Kupejamkan mataku. Mencoba menenangkan diri, aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya melalui mulut. Berulang kali aku melakukannya hingga rasa sakit itu menghilang. Perasaanku lebih tenang sekarang. Saatnya aku membuka mata.
Sialan! Apa-apaan ini?
Tiba-tiba saja aku terduduk di ranjangku lengkap dengan
selimut yang menyelimuti kaki. Mataku melirik ke sekitar kamar. Tak ada apa-apa.
Semuanya normal. Bahkan tak ada bercak darah di lantai porselen depan cermin―tempat terakhir kali aku berada. Aku memegang perutku. Tidak ada darah
mengalir. Aku pun tak merasa kesakitan. Aku melirik jam digital, pukul enam pagi.
Tidak! Terakhir kali aku terbangun tadi itu pukul dua pagi!
Apa aku bermimpi? Aneh
sekali. Jika itu mimpi tidak mungkin aku merasa sesadar tadi. Bahkan rasa sakit tusukkannya terasa nyata. Dan wanita itu... Ia benar-benar ada. Ia
benar-benar datang menghantuiku. Satu hal, mengapa wanita itu mirip sekali
denganku? Atau apakah benar wanita itu adalah aku? Apakah benar
wanita itu adalah cerminan penderitaanku? Tetapi aku tak sedang menderita sekarang. Lalu apa maksud
ucapannya? Aku tak mengerti dan tak mau mengerti.
*****
Aku buru-buru memakan sarapanku karena
tak mau ketinggalan bis sekolah. Adik perempuanku, Julie, menatapku dengan
tajam seakan-akan aku membuat kesalahan yang besar.
Aku dan Julie memang tak akur. Seringkali
kami bertengkar-entah itu karena hal sepele atau besar-tetapi tak sekalipun Dad
melerai kami. Ketika haloween, kami berebut kostum Jack o Latern yang sama.
Kami bertengkar sambil berteriak tetapi Dad hanya diam saja tak berusaha untuk
menghentikan adu mulut diantara kami. Kemudian tawa Dad tiba-tiba menggelegar
seakan-akan kami adalah dua komedian yang sedang beraksi di atas panggung. Entah mengapa kami berdua berhenti bertengkar.
Jadi cara Dad melerai memang berbeda dari orang tua lainnya.
Semakin lama aku tak nyaman dengan sikap
adikku yang masam.
"Apa masalahmu, huh?" Tanyaku
ketus.
Julie meletakan garpu, "Kau berisik
sekali tadi malam." Jantungku berhenti berdetak. Jadi itu hanya mimpi?
Tapi itu terasa nyata.
"Memangnya ada apa denganku? Aku tak
melakukan apa-apa." Kataku gusar.
"Kau berteriak seperti orang
kesakitan. Kau gila." Balas Julie.
"Mengapa tak ada yang
membangunkanku?"
"Kami akan membangunkanmu. Untunglah
setelah kami datang suara teriakanmu berhenti." Jawab Mom dengan lembut.
"Tapi Mom, itu tetap menggangguku!
Aku ada ulangan aljabar hari ini!" Julie terlihat sangat kesal.
"Aku'kan nggak sadar!" Balasku
heboh.
"April! Julie! Hentikan! Kalian
sudah besar. Berhenti bersikap kekanak-anakan!" Ujar Mom mengkuliahi kami.
"Tapi Mom..." Keluh kami berdua
berbarengan. Tiba-tiba saja Dad bertepuk tangan. "Wow! Lihat! Kalian
sungguh kompak. Luar biasa." Dad pun menyunggingkan senyum.. Senyuman
licik.
Julie menggebrak meja. Ia pergi mengambil mantel dan syal kemudian ia
membanting pintu rumah tanpa berpamitan pada siapapun. Aku menatap Dad
seolah-olah ia yang bersalah. Well, Julie berusia empat belas tahun dan ia
murid tahun pertama di sekolah. Maklum saja jika Julie masih labil.
Aku tak menyusul Julie karena itu akan
memperburuk masalah. Ia membutuhkan waktu 'tanpa April'.
Aku menciup pipi kedua orang tuaku
sebelum akhirnya pergi ke halte bis. Aku mengenakan mantel berwarna pitch plus
menggenggam sweater Lucas. Aku berencana mengembalikannya sepulang sekolah.
Tidak ada bis di
halte dan aku datang kepagian. Aku membaca novel Pride and Prejudice sembari
menunggu. Pikiranku tak fokus pada novel karena aku sedang cemas. Bukan
mencemaskan Julie yang tak muncul di halte-mungkin Julie berjalan
kaki-melainkan cemas akan mimpiku.
Seumur hidup aku
tak pernah merasakan mimpi yang senyata tadi malam. Rasa sakit tusukan itu
benar ada dan darah itu benar-benar mengalir membasahi tanganku. Aku tak tahu
mengapa aku mendapat mimpi itu. Mungkinkah sebagai pertanda sesuatu? Tidak. Aku
tak percaya pada hal-hal spiritual. Jalan terbaik adalah melupakan dan mengubur mimpi itu.
Aku mengerjap
kaget. Suara klakson mobil menyadarkanku kembali. Tetapi aku lebih kaget ketika
mengetahui siapa yang mengklaksoniku.
Mobil sedan Toyota
Corolla berwarna biru kehitaman keluaran tahun 2004 menyisi di tempat
pemberhentian bus. Aku memicingkan mataku berusaha melihat dengan jelas siapa
orang yang mengemudikan mobil itu. Siapa tahu prasangkaku tak tepat. Ternyata
aku tak keliru.
"Butuh
tumpangan?" Ujar Tom. Aku tak mengedipkan mata, aku melongo seperti orang
tolol ketika melihat senyuman Tom. "Ayo naik, Ap. Memangnya kau tak
kedinginan menunggu bis, ya?" Sambung Tom. Aku menggeleng bukan menjawab
pertanyaan Tom tetapi menggeleng karena tak menyangka sikap Tom.
Tom keluar dari
mobilnya. Ia berdiri dihadapanku yang terdiam seperti patung. Tom memegang
kedua bahuku sambil menundukkan kepalanya. Mata kami bertemu kembali. Tatapan
Tom seakan-akan mengunci mataku. "Ayolah, Ap. Kau tak mau
terlambat'kan?" Bujuk Tom lagi.
Tangan Tom menarik
lenganku supaya mengikutinya. Tom membukakan pintu mobil. Sebelum aku masuk,
tatapanku pada Tom seakan-akan mengatakan, "Ada apa denganmu, man?"
"Jika polisi
melihat mobilmu disini aku yakin kau akan terkena masalah." Gumamku.
Tom terkekeh,
"Dasar sok tahu."
Di dalam mobil
hanya terdengar suara musik yang memecah kesunyian. Tapi kesunyian itu pecah
saat Tom tiba-tiba saja tertawa sendiri. Apa yang ia pikirkan sih? Apa ia
sedang mengingat kejadian dua tahun lalu?
Saat itu pertama kalinya Tom mengendarai mobil ini bersamaku. Tom tak
tahu jika aku tak suka pengendara yang mengebut. Sepanjang jalan aku mengoceh
padanya. Kukira Tom akan membunuhku. Selain karena kelajuannya tidak wajar, Tom
terkadang memperhatikan wajahku-itu sebenarnya membuatku salah tingkah.
"Perhatikan
jalan, Tom!" Omelku ketika Tom mulai melirik wajahku.
"Well, kapan
terakhir kali kau menaiki mobilku?" Tanya Tom.
Tatapanku mengaku
pada Tom. Senyum Tom seketika memudar, wajahnya menjadi serius. "Aku rasa
saat kau pertama kali membeli mobil ini. Aku lupa." Dustaku. Padahal
selama ini aku selalu mengingat hal-hal yang aku lalui bersama Tom.
Aku mengalihkan
perhatianku dengan melihat pemandangan jalanan melalui kaca jendela mobil. Aku
merasa aku telah gagal. Mengapa saat aku benar-benar ingin melupakan sesuatu
yang pahit-manis-tapi hal yang harus aku lupakan datang begitu saja? Mengapa
hal yang ingin aku jauhi tiba-tiba mendekatiku?
"Trims,
Tom." Ujarku pada Tom. Tom mengangguk dan tersenyum. Kami berjalan bersama
menuju kelas masing-masing. Di depan pintu sekolah kami betemu dengan Toby,
sahabat Tom.
Toby menatap tak
percaya. Sumpah pramuka! Mulut Toby terbuka dengan lebar dan matanya sama
sekali tak berkedip. Kami menyapa Toby berbarengan seolah tak terjadi apa-apa.
Aku rasa Toby semakin bingung dengan keganjalan ini. Aku pun tak mengerti apa
yang kami lakukan sekarang.
"Aku duluan,
ya." Pamitku pada Tom dan Toby. Aku masih bisa mendengar pertanyaan Toby
pada Tom mengenai apa yang terjadi meskipun aku sudah sepuluh langkah
meninggalkan mereka. Tak diragukan lagi jalan pikiran Toby sama halnya dengan
Camille ketika melihat kami berdua bersama.
Aku mempercepat
langkahku. Berhasil, suara itu memudar.
Setibanya di
loker, aku menaruh mantelku. Lokerku bersebelahan dengan loker Ariane Maltrose,
temanku di kelas biologi. Ia menyapaku dengan ramah dan aku membalasnya dengan
senyum kaku. Tak biasanya ia terlihat senang luar biasa.
"Ada murid
baru, lho." Katanya tiba-tiba.
"Oh ya?"
Aku mencoba merespon seantusias mungkin.
"Cowok lagi.
Katanya sih keren." Kata Ariane sambil membenahi rambut pirang sebahunya.
Aku heran mengapa Ariane terlihat senang sekali?
Bel pun berbunyi,
kami berjalan bersama memasuki kelas biologi. Langkah Ariane berbeda dari hari
sebelumnya. Ia melompat-lompat kecil seperti anak kecil yang baru saja diberi
balon.
Semua kelas tak
aku ikuti dengan baik. Rata-rata aku melamun di dalam kelas. Ariane sempat
menendang kakiku saat Mrs. Lamore menjelaskan dan bertanya padaku. Untung saja
aku dapat menjawabnya.
Saat bel makan
siang aku buru-buru keluar kelas. Aku tak menaruh bukuku dulu melainkan
langsung menuju kantin. Camille sudah duduk di meja kantin sambil memakan
burger dan salad jagung. Cepat-cepat aku menuju Camille karena ia orang yang
aku butuhkan sekarang.
"Kau tak
makan?" Tanyanya sambil mengunyah. Aku menggeleng. Nafsu makanku semakin
menghilang ketika melihat makanan yang menumpuk pada nampan makan Camille.
Menjijikan. Tidak, biasanya Camille banyak makan karena ada hal yang tak beres.
Mataku menatap
Camille serius sampai-sampai ia meletekan burgernya di nampan. Ia menelan
makanannya. Tatapan Camille seakan-akan mengerti dengan apa yang ingin aku katakan.
"Aku juga, Ap." Katanya tiba-tiba.
"Jadi, kau
tahu apa maksudnya?" Kataku setelah kami bertukar cerita mengenai mimpi
menyeramkan. Camille terkejut sekali mendengarnya. Ia kira hanya ia saja yang
mengalami hal-hal aneh. Camille mengalami mimpi yang sama. Namun secara
berbeda.
Camille berada di
padang rumput yang sama ketika ia sedang kehilangan jiwanya, begitulah
istilahnya. Disana ia tak melihat Lucas. Ia hanya sendirian mengenakan gaun
Victory. Padang rumput itu rasanya tak asing, bahkan ia berani bertaruh bahwa
ia merasa bahagia disana. Sebelum akhirnya langit berubah menjadi gelap. Suara
teriakan penderitaan memenuhi liang telinganya. Tak hanya suara jeritan wanita,
terdengar pula suara jeritan pria yang lebih menyedihkan. Tiba-tiba ia melihat
gadis yang berlumuran darah-gadis yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya.
Camille refleks berteriak keras meminta keluar dari dunia yang gelap. Lalu
seseorang yang mirip sekali dengannya mendekatinya sambil mengucapkan
mantra-mantra yang aneh sebelum akhirnya ia terbangun.
Begitulah cerita
Camille. Bulu kudukku meremang mendengar ceritanya. Apa jangan-jangan gadis
yang ada dimimpinya adalah aku? Tapi mengapa aku?
"Boo!"
Suara itu berhasil membuatku dan Camille berteriak keras. Toby sialan!
"Serius amat sih."
Katanya kemudian mengambil keripik kentang Camille yang belum dibuka. Sembari
mengunyah keripik yang ia curi, ia menunggu jawaban dari kami.
Tom tiba-tiba
bergabung dengan kami, menyapaku sembari menyunggingkan senyum. Aku bertukar
pandangan dengan Camille.
Sekarang aku tak
dapat membedakan mana kehidupan nyata mana mimpi. Semuanya terasa sama saja.
Mengerikan atau menakjubkan.
~~~~~