Tuesday, February 18, 2014

Chapter 1 : Prejudice

cerita ini dibuat untuk mengisi waktu luang. judul aslinya masih gatau apa dan keseluruhan cerita belum selesai sih. well, ini bab pertama dan kalau ada waktu luang lagi ceritanya bakal dilanjutin hehe.

Buram... Ya, semuanya buram terlihat samar-samar. Pandanganku kabur, nafasku sesak akibat kesakitan yang kutahan-tahan sejak tadi. Tapi aku kuat, aku dapat bertahan.
Matanya yang berwarna keemasan menatapku penuh harap, wajahnya terlihat sangat pucat penuh kekhawatiran. Satu hal yang membuat diriku semakin merasa sakit. Air matanya mengalir dan itu untukku. Aku berusaha sekuat tenaga memegang wajahnya sehingga membuatnya lebih tenang. Pipinya pun berlumuran darah yang berasal dari tanganku. Tangannya memegang tanganku dengan erat, rasanya tak ada yang bisa memisahkan kami.
Aku terbaring lemah dipangkuannya. Ia membisikan kata-kata yang selalu ia ucapkan setiap hari. Kata-kata itu terasa lebih mengharukan sekarang. "Aku menyayangimu." Kata itu... Tidak, jangan biarkan itu menjadi kata terakhir darinya untukku.
Tiba-tiba saja aku melihat seberkas kilauan yang berhasil membuatku meringgis. Matanya yang berwarna hitam pekat begitu garang haus akan kekecewaan yang menimpa dirinya. Ia tersenyum keji. Aku berusaha untuk berteriak agar orang yang aku cintai pergi menghindari orang yang tepat berada di belakangnya. Tapi aku tak bisa, untuk mengatakan satu patah kata saja aku terlalu lemah.
Orang itu memegang pedang yang sangat tajam. Pedang yang baru saja ia asah tadi malam. Pedang yang saat ini berlumuran darah. Dan darah itu adalah darahku.
Aku tak ingin orang yang aku cintai tertusuk oleh pedang itu. Aku ingin ia hidup. Aku ingin ia bahagia. Aku tak ingin ia mati karenaku.
Aku tiba-tiba bangkit mengeluarkan seluruh tenagaku. Aku mendorongnya sehingga ia dapat menjauh. Ia terhindar dari malapetaka yang aku buat. Ia selamat. Aku pun bersyukur.
Darah keluar dari mulutku. Satu kali lagi pedang itu menusukku-tepat di dadaku. Orang bermata hitam pekat menatapku dengan iba sekarang. Matanya penuh penyesalan dan ia menangis. Aku mengerti. Sepenuhnya bukanlah kesalahannya. Tapi ini semua salahku. Kesalahan terbesar hingga membuat diriku sendiri sengsara dengan penyesalan yang begitu hebatnya. Aku tersenyum padanya untuk terakhir kalinya.
Udara semakin dingin, hembusan angin seolah-olah menyadarkanku bahwa aku tak bisa lagi merasakan sekujur tubuhku. Jantungku berdetak sangat kencang. Pandanganku semakin kabur. Semuanya terlihat samar-samar. Hanya kegelapan yang dapat aku lihat. Pada akhirnya semua rasa sakit yang aku rasakan menghilang. Menghilang selangkah dengan kepergianku...
~~~~~
Chapter 1 : Prejudice
April Fallen, itulah namaku. Perilaku dan pemikiranku terkadang berbeda dengan gadis remaja pada umumnya; bergossip, berbelanja, menghabiskan waktu dengan hang out bersama teman-teman, pergi ke pesta-itu semua tak dilakukan olehku. Aku lebih senang membaca novel, mendengarkan musik, berdiam diri di rumah bahkan pergi ke pantai sepagi mungkin setiap akhir pekan-seorang diri.
Tapi akhir pekan kali ini tak seindah akhir pekan biasanya. Bagaimana aku tak kesal, rencana yang sudah aku atur selama satu minggu ini hancur begitu saja bagaikan kaca jendela yang pecah berkeping-keping.
Hanya saja ada hal lain yang aneh, sekesal-kesalnya aku saat ini, aku sama sekali tak dapat kesal pada orang itu. Orang yang bahkan aku kira akan membunuhku.
Hariku terasa berantakan ketika aku basah kuyub. Ini semua ulah orang asing yang sok menyelamatkanku. Orang asing itu mengira jika aku melakukan percobaan bunuh diri dengan menghanyutkan diri di laut. Caranya menyelematkanku membuat aku terkejut bahkan bisa dibilang ia menyeretku ke sisi pantai dengan menenggelamkanku di bawah air.
Well, kejadian itu semakin menyadarkanku bahwa aku adalah gadis yang aneh-sangat aneh. Apalagi orang asing itu tertawa sangat puas selagi aku menjelaskan mengapa aku berjalan menuju laut. Aku hanya ingin menghirup udara segar; menikmati keindahan pagi di pantai saat musim gugur.
Badanku kedinginan begitu pun dengan orang asing itu. Gigiku menggeretak, badanku mengigil. Aku sendiri bisa merasakan bahwa tanganku membeku mengaku.
Itu tak seberapa dibandingkan rasa takutku ketika aku mendapati orang asing itu menatapku. Aku jadi memikirkan hal yang tidak-tidak. Mungkinkah orang ini adalah seorang maniak?
Sedetik kemudian aku tersenyum karena orang asing yang sok menyelematkanku menunjuk matahari yang bulat dan besar bercahaya berwarna oranye terang. Memang sangat indah dan menakjubkan. Ini pertama kalinya aku melihat proses matahari pertama terbit hingga beranjak naik. Semula langit berwarna biru gelap kehitaman kemudian menjadi oranye kemerahan dan pada akhirnya berwarna biru langit yang sangat cerah... Mataku terbelalak karena keindahan yang ditawarkan. Mataku sama sekali tak berkedip, sedetik pun tak akan aku lewatkan untuk melihat keajaiban alam ini. Sangatlah merugikan jika melewatkan momen ini.
Hal itulah yang membuatku tak bisa memaki-maki orang asing itu. Bukan karena orang itu  lebih tua dariku malah orang itu mungkin seumuran. Rambutnya bergelombang dipotong cepak namun sudah sedikit gondrong berwarna cokelat tua hampir hitam, warna matanya sangat gelap-hitam pekat, badannya bongsor dan proposional. Mungkin orang itu tinggal di dekat pantai karena kulitnya merah terbakar sinar matahari.
Orang itu pun sedikit mempunyai pemikiran yang sama sepertiku hingga berhasil membuatku memendam emosi yang seharusnya meledak. Tak jauh berbeda denganku, orang asing itu mencari ketenangan.
Setengah jam sudah kami menikmati udara di pantai Aiki Seattle yang sangat sepi dari pengunjung. Kami sama sekali tak berbincang. Hanya duduk diam menghirup udara segar pantai sembari melihat pemandangan sekaligus mengerinkan baju kami yang basah. Setelah matahari cukup tinggi barulah orang asing itu pamit padaku. Sebelum orang itu pergi,  ia menawari sweaternya yang tak basah padaku. Sweater rajutan itu berwarna merah marun yang tentunya akan kebesaran jika aku kenakan. Aku sempat menolak tapi orang itu memaksa. Dengan terpaksa pula aku menerimanya.
Aku memandang orang asing itu pergi menjauhiku sembari menggenggam sweater yang dipinjamkannya. Tak lama setelah itu aku kembali menikmati pemandangan pantai. Pikiranku kembali jernih, paru-paruku tak sesak lagi. Sayang para pengunjung lain sudah berdatangan seakan mengusirku dari pantai.

~~~~~



No comments:

Post a Comment