Buram... Ya, semuanya buram
terlihat samar-samar. Pandanganku kabur, nafasku sesak akibat kesakitan yang
kutahan-tahan sejak tadi. Tapi aku kuat, aku dapat bertahan.
Matanya yang berwarna keemasan
menatapku penuh harap, wajahnya terlihat sangat pucat penuh kekhawatiran. Satu
hal yang membuat diriku semakin merasa sakit. Air matanya mengalir dan itu
untukku. Aku berusaha sekuat tenaga memegang wajahnya sehingga membuatnya lebih
tenang. Pipinya pun berlumuran darah yang berasal dari tanganku. Tangannya
memegang tanganku dengan erat, rasanya tak ada yang bisa memisahkan kami.
Aku terbaring lemah
dipangkuannya. Ia membisikan kata-kata yang selalu ia ucapkan setiap hari.
Kata-kata itu terasa lebih mengharukan sekarang. "Aku menyayangimu."
Kata itu... Tidak, jangan biarkan itu menjadi kata terakhir darinya untukku.
Tiba-tiba saja aku melihat
seberkas kilauan yang berhasil membuatku meringgis. Matanya yang berwarna hitam
pekat begitu garang haus akan kekecewaan yang menimpa dirinya. Ia tersenyum
keji. Aku berusaha untuk berteriak agar orang yang aku cintai pergi menghindari
orang yang tepat berada di belakangnya. Tapi aku tak bisa, untuk mengatakan
satu patah kata saja aku terlalu lemah.
Orang itu memegang pedang yang
sangat tajam. Pedang yang baru saja ia asah tadi malam. Pedang yang saat ini
berlumuran darah. Dan darah itu adalah darahku.
Aku tak ingin orang yang aku
cintai tertusuk oleh pedang itu. Aku ingin ia hidup. Aku ingin ia bahagia. Aku
tak ingin ia mati karenaku.
Aku tiba-tiba bangkit
mengeluarkan seluruh tenagaku. Aku mendorongnya sehingga ia dapat menjauh. Ia
terhindar dari malapetaka yang aku buat. Ia selamat. Aku pun bersyukur.
Darah keluar dari mulutku.
Satu kali lagi pedang itu menusukku-tepat di dadaku. Orang bermata hitam pekat
menatapku dengan iba sekarang. Matanya penuh penyesalan dan ia menangis. Aku
mengerti. Sepenuhnya bukanlah kesalahannya. Tapi ini semua salahku. Kesalahan
terbesar hingga membuat diriku sendiri sengsara dengan penyesalan yang begitu
hebatnya. Aku tersenyum padanya untuk terakhir kalinya.
Udara semakin dingin, hembusan
angin seolah-olah menyadarkanku bahwa aku tak bisa lagi merasakan sekujur
tubuhku. Jantungku berdetak sangat kencang. Pandanganku semakin kabur. Semuanya
terlihat samar-samar. Hanya kegelapan yang dapat aku lihat. Pada akhirnya semua
rasa sakit yang aku rasakan menghilang. Menghilang selangkah dengan
kepergianku...
~~~~~
Chapter 1 : Prejudice
April Fallen, itulah namaku.
Perilaku dan pemikiranku terkadang berbeda dengan gadis remaja pada umumnya;
bergossip, berbelanja, menghabiskan waktu dengan hang out bersama teman-teman,
pergi ke pesta-itu semua tak dilakukan olehku. Aku lebih senang membaca novel,
mendengarkan musik, berdiam diri di rumah bahkan pergi ke pantai sepagi mungkin
setiap akhir pekan-seorang diri.
Tapi akhir pekan kali ini tak
seindah akhir pekan biasanya. Bagaimana aku tak kesal, rencana yang sudah aku
atur selama satu minggu ini hancur begitu saja bagaikan kaca jendela yang pecah
berkeping-keping.
Hanya saja ada hal lain yang
aneh, sekesal-kesalnya aku saat ini, aku sama sekali tak dapat kesal pada orang
itu. Orang yang bahkan aku kira akan membunuhku.
Hariku terasa berantakan
ketika aku basah kuyub. Ini semua ulah orang asing yang sok menyelamatkanku.
Orang asing itu mengira jika aku melakukan percobaan bunuh diri dengan
menghanyutkan diri di laut. Caranya menyelematkanku membuat aku terkejut bahkan
bisa dibilang ia menyeretku ke sisi pantai dengan menenggelamkanku di bawah
air.
Well, kejadian itu semakin
menyadarkanku bahwa aku adalah gadis yang aneh-sangat aneh. Apalagi orang asing
itu tertawa sangat puas selagi aku menjelaskan mengapa aku berjalan menuju
laut. Aku hanya ingin menghirup udara segar; menikmati keindahan pagi di pantai
saat musim gugur.
Badanku kedinginan begitu pun
dengan orang asing itu. Gigiku menggeretak, badanku mengigil. Aku sendiri bisa
merasakan bahwa tanganku membeku mengaku.
Itu tak seberapa dibandingkan
rasa takutku ketika aku mendapati orang asing itu menatapku. Aku jadi
memikirkan hal yang tidak-tidak. Mungkinkah orang ini adalah seorang maniak?
Sedetik kemudian aku tersenyum
karena orang asing yang sok menyelematkanku menunjuk matahari yang bulat dan besar bercahaya berwarna
oranye terang. Memang sangat indah dan menakjubkan. Ini pertama kalinya aku melihat proses matahari pertama terbit hingga beranjak naik. Semula langit
berwarna biru gelap kehitaman kemudian menjadi oranye kemerahan dan pada akhirnya
berwarna biru langit yang sangat cerah... Mataku terbelalak karena
keindahan yang ditawarkan. Mataku sama sekali tak berkedip, sedetik pun tak akan aku lewatkan untuk melihat keajaiban alam ini. Sangatlah merugikan jika
melewatkan momen ini.
Hal itulah yang membuatku tak
bisa memaki-maki orang asing itu. Bukan karena orang itu lebih tua dariku malah orang itu mungkin
seumuran. Rambutnya bergelombang dipotong cepak namun sudah sedikit gondrong
berwarna cokelat tua hampir hitam, warna matanya sangat gelap-hitam pekat,
badannya bongsor dan proposional. Mungkin orang itu tinggal di dekat pantai
karena kulitnya merah terbakar sinar matahari.
Orang itu pun sedikit
mempunyai pemikiran yang sama sepertiku hingga berhasil membuatku memendam
emosi yang seharusnya meledak. Tak jauh berbeda denganku, orang asing itu
mencari ketenangan.
Setengah jam sudah kami
menikmati udara di pantai Aiki Seattle yang sangat sepi dari pengunjung. Kami
sama sekali tak berbincang. Hanya duduk diam menghirup udara segar pantai
sembari melihat pemandangan sekaligus mengerinkan baju kami yang basah. Setelah
matahari cukup tinggi barulah orang asing itu pamit padaku. Sebelum orang itu
pergi, ia menawari sweaternya yang tak
basah padaku. Sweater rajutan itu berwarna merah marun yang tentunya akan
kebesaran jika aku kenakan. Aku sempat menolak tapi orang itu memaksa. Dengan
terpaksa pula aku menerimanya.
Aku memandang orang asing itu
pergi menjauhiku sembari menggenggam sweater yang dipinjamkannya. Tak lama
setelah itu aku kembali menikmati pemandangan pantai. Pikiranku kembali jernih,
paru-paruku tak sesak lagi. Sayang para pengunjung lain sudah berdatangan
seakan mengusirku dari pantai.
~~~~~
No comments:
Post a Comment