Kini aku dapat bernafas dengan lega. Tom tak ada didekatku. Tapi Camille
terlihat sangat bingung. Seharusnya yang kebingungan adalah aku. “Apa yang kau pikirkan?” tanyaku pada Camille. Tetapi ia sama sekali tidak menggubris. Raut wajahnya sangat
serius dengan tatapan kosong. Sebelumnya Camille
tak pernah seperti ini.
Sampai di restoran sea food pun ekspresinya tak berubah. Saking aneh
sikap Camille, aku yang memesankan makanan untuknya. Tak peduli ia suka atau tidak, salah sendiri ia
tak menggubrisku.
Aku hanya menatap Camille heran.
Apa Camille terhipnotis? Tidak. Terakhir
kali ia bersamaku tak ada orang mencurigakan di sekitar kami. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?
“Camille?” Ujarku berusaha menyadarkannya. “Camille? Ada apa denganmu?” kemudian si pelayan datang
mengantarkan pesanan. “Terima kasih.” Kataku tanpa mengalihkan perhatian dari
Camille. Camille tetap
terdiam meskipun makanan yang kami―aku pesan sudah datang. Aku meremas rambutku karena bingung harus bersikap apa. “Camie, makanan kita sudah ada. Ayo makan!” kataku hampir berteriak.
“Mungkin dia shock.” Ujar si pelayan. Aku mengenali suara barito
yang berat itu.
“Hai!” Sapa
pelayan yang memakai topi merah. “Kita bertemu lagi.” kemudian pelayan itu tersenyum dan tiba-tiba duduk disebelahku.
Aku bertambah bingung. Selain karena sikap Camille yang tak biasa
ditambah lagi dengan orang asing yang sok menyelamatkanku duduk disampingku. Pelayan itu kemudian mencondongkan badannya ke arahku. “Apa temanmu sering bertingkah seperti ini?” tanyanya.
“Apa ia kemasukan roh halus?” Aku balik bertanya. Kemudian pelayan itu tertawa sinis. “Kemasukan? Tidak. Ia shock.”
Aku menggigit kuku jari telunjuk, “Shock? Apa karena ia melihat
boneka nenek sihir? Itu nggak mungkin.”
Pelayan itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar hipotesisku. “Itu nggak lucu.” Kataku sakartis padanya.
“Siapa namanya?” tidak baik sih memberitahu nama pada orang asing. Entah
mengapa aku merasa orang ini dapat membantuku menyadarkan Camille. “Camille. Panggil dia Camie.” Jawabku ragu.
Ia mengangguk seakan-akan
mengeti dengan apa yang harus ia lakukan. “OK, Camie, lihat tanganku. Kau sudah aman sekarang!” ia melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah
Camille. Tidak ada respon dari Camille. Kemudian ia meneriaki nama Camille
dengan sangat kencang hingga semua pengunjung melihat ke arah kami.
“April! Kau tak percaya dengan apa yang aku lihat tadi!” tiba-tiba saja Camille tersadar. Tiga
detik kemudian Camille berteriak seolah-olah ia melihat hantu. Camille seketika terdiam saat menatap orang asing yang berada dihadapannya. Ia melayangkan tatapan
penasaran padaku. Aku mengangkat kedua bahuku.
“Jadi namamu April?” kata pelayan itu. Aku sengaja tak menggubrisnya, Camille menghancurkan
semuanya. “Aku melihatmu tadi!” ujar Camille sembari menunjuk cowok itu. Suaranya benar-benar lantang.
“Disini?” kataku dan pelayan itu berbarengan. Camille tersenyum menggodaku. “Tentu saja bukan. Di tempat lain.” jawabnya.
“Jadi, April, temanmu ini seorang cenayang, ya?” tanyanya tak masuk akal. Camille tertawa mendengar ucapan cowok sok keren
itu. Well, sekarang aku bisa mengatainya.
Camille meminum soda lemon
yang aku pesankan, “Oh Ap, seleramu benar-benar aneh. Minuman ini
benar-benar nggak cocok untukku.” Kemudian ia meminum kembali
soda lemon itu. Camille menarik nafas dengan berat, “Kalian nggak akan percaya dengan apa yang kulihat tadi.” Sambungnya.
“Terserahlah.” Gumamku sangat pelan-semut pun tak akan
bisa mendengarnya. Cowok asing itu bukannya bekerja malah tertawa sembari
bersantai. Apakah ia dapat mendengar apa yang aku ucapkan? Tapi siapa peduli.
Camille tak
mengalihkan pandangannya dariku maupun cowok itu. Ia memandang kami berdua bergiliran.
“Aku Camille Bennet.” Camille mengulurkan
tangannya tiba-tiba pada cowok itu. Cowok itu tentu saja terlihat bingung. “Ooh.. Namaku Lucas Heater.” Kemudian ia tersenyum. Bagiku senyumannya menjijikan. Tahulah seperti playboy
yang sedang merayu.
“Pantas saja kau hot.” Goda Camille tetapi cowok itu―Lucas hanya tersenyum. “April, mengapa kau tak pernah bercerita padaku
jika kau mempunyai teman seperti Lucas?” Camille akan menginterogasiku.
“Camie, mengapa kita tidak makan saja dan membiarkan dia untuk kembali
bekerja? Benar'kan?” mataku menatap mata Lucas yang berwarna hitam gelap. Untuk pertama
kalinya bulu kudukku meremang hanya karena menatap mata seseorang. “Apa yang bisa aku kerjakan? Tempat ini tidak cukup ramai sekarang.” Cowok itu benar-benar membuat
emosiku memuncak. Aku memutar kedua bola mataku karena kesal.
“Aku bertemu dengannya di pantai pagi tadi.” Gumamku tak jelas. Aku memainkan kentang goreng sebagai penyalur kekesalan. “Kau ingat
bagaimana kacaunya aku tadi? Itu karena dia.” Kataku masam.
Camille cekikikan, Lucas pun begitu. “Kau tak akan menyangkanya. Kukira ia sedang mencoba bunuh diri.” Balas Lucas. Camille pun tertawa kembali, “Ia memang seperti itu.
Selalu saja melakukan hal yang bodoh,”
“Camille!” Kataku tegas. Aku tak menyangka Camille tak membelaku.
“Jadi itu bukan salahmu, bro!” lanjut Camille. Lucas pun mengelus dadanya karena lega.
Lucas menatap Camille sekarang. Ia mulai mencondongkan
badannya pada Camille. “Camie, maukah kau
mengenalkan temanmu ini padaku?” Aku melipat kedua tangan
didada mendengar permintaan tolol itu.
Halis Camille terangkat
sebelah, “Mengapa harus aku yang mengenalkannya padamu?
Bukankah kalian sudah saling kenal?” Lucas menggeleng dan raut
wajahnya tiba-tiba menjadi sedih. Penjilat.
“April, ini Lucas. Lucas, ini April.” Camille kemudian memakan kentang goreng dan memamerkan giginya yang putih
sempurna. Jelas saja aku terlihat tidak antusias. Benar-benar kesal.
Lucas mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. Mataku menyipit dan mulai mencibirnya dalam hati. Cowok macam apa dia?
“April Fallen.” Ujarku singkat sembari membalas uluran tangan Lucas. Entah mengapa tangannya begitu dingin dan berkeringat seakan-akan ia ini berpenyakit.
“Lucas Heater.” Balasnya. Tapi ia tak menatapku. Ia berubah menjadi serius. Dengan cepat ia
menarik tangannya.
“Sebenarnya apa yang kau lihat tadi?” tanya Lucas pada Camille.
Mulut Camille penuh dengan udang goreng, “Aku melihatmu di suatu padang rumput yang semua rumputnya kering. Matamu
menatap sedih pada seorang wanita yang terbaring berlumuran darah. Entahlah itu pun samar-samar.” Sembari menelan makanannya ia melanjutkan kembali ucapannya yang tidak
selesai, “Mungkinkah aku benar-benar cenayang? Karena tadi
aku benar-benar tidak sadar, akibat suaramulah aku tersadar
kembali.”
“Tapi jika kau cenayang atau apapun itu yang berhubungan dengan hal-hal
spiritual, mengapa baru sekarang kau mengalaminya?” tanyaku serius.
Lucas tak mengeluarkan suara ketika aku dan Camille sedikit memperdebatkan apa yang
terjadi pada Camille. Mulutnya sama sekali tak bergerak. Aku hanya melihat tatapannya yang menjadi kosong. “Aku harus kembali bekerja. Senang bertemu kalian. Selamat menikmati hidangannya.” Ia pun pergi meninggalkan meja kami. Lima detik kemudian Lucas kembali,
"Well, tolong jaga baik-baik sweater itu." Lucas tersenyum manis
padaku. Lagi-lagi Camille menatap tak percaya.
Sejak Lucas meninggalkan meja kami, aku tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh
Camille. Otakku terlalu sibuk memperhatikan Lucas. Aku dapat melihatnya dari jendela kecil yang menghubungkan meja kasir dan
dapur. Lucas terlihat memandang kami berdua, tapi setelah matanya bertemu langsung
dengan mataku, kepalanya menunduk dan pergi menghilang meninggalkan rasa penasaran pada diriku.
~~~~~
No comments:
Post a Comment