Tuesday, February 18, 2014

Chapter 4 : Dreams

Hitam. Kelam. Tempat macam apa ini sebenarnya? Benar-benar gelap hingga kau tak akan menyadari jika kau berada di suatu tempat. Dan kau pun tak dapat merasakan dirimu sendiri. Mati rasa. Tidak, ini tidak beres. Sebaik-baiknya jalan adalah keluar dari tempat ini. Tapi bagaimana mungkin? Menggerakan kakipun sudah tak bisa. Semua orang pasti akan putus asa jika berada disini.
Tempat ini basah. Dingin dan lembab. Yang akan kau sadari kali ini ialah kau sebenarnya terperangkap. Terperangkap dalam tempat yang sempit dan mengerikan. Berteriak pun sepertinya adalah hal yang sia-sia. Tak ada orang yang akan mendengarnya. Sudah dibilang inilah tempat keputus asaan.
Paru-paru sudah mulai terisi penuh oleh air hingga kau merasa sesak nafas. Mencoba untuk berteriak saja sudah tak mampu. Aku berada dalam dasar sumur keputus asaan. Selama mungkin aku mencoba untuk bertahan tapi tetap saja inilah keputus asaan! Hanya rasa pesimislah yang menguasaiku. Semua kata kematian seakan-akan berada dalam otakku hingga pada akhirnya pikiran itu berubah menjadi nyata...
Nafasku tersengal-sengal. Mimpiku benar-benar buruk. Mimpi macam apa tadi? Sumpah! Aku tak dalam keadaan tertekan sekarang. Mimpi itu tak wajar.
Tenggorokanku terasa kering lantas aku langsung meneguk segelas air mineral. Tubuhku berkeringat padahal ini musim gugur dan cuaca malam ini cukup dingin. Aku menelan ludah berusaha menenangkan batinku. Berulang kali aku menarik nafas tapi tetap saja itu tak berhasil. Bulu kudukku tetap berdiri, jantungku tetap berdebar dengan kencang.
Sekali lagi aku memejamkan mata. Gelap. Aku merasa lebih takut. Tapi rasa takut itu lebih kecil dibandingkan apa yang sedang aku  lihat sekarang.
Nafasku terhenti tapi bayangan wanita itu tetap mendekatiku. Semakin dekat bayangan itu terlihat semakin jelas. Wanita itu memakai gaun zaman Victory, gaun yang megah berwarna merah marun yang aku yakini pada zamannya itu adalah gaun yang terbaik. Tapi sekarang gaun itu terlihat sangat menyeramkan. Banyak bercak darah yang menempel pada gaunnya serta sobek tercabik-cabik.
Aku tak bisa bergerak. Mengedipkan mata pun tak bisa. Dengan segala keterpaksaan aku menahan rasa takut untuk melihat penampakan wanita itu. Kali ini wajahnya tepat berada didepan mataku. Wajahnya sangat pucat. Eye liner yang menghiasi wajahnya luntur begitu saja akibat air matanya mengalir. Aku tak bernafas sekarang. Bisakah aku melarikan diri?
Wanita itu terus menatap tepat pada mataku. Tatapannya sungguh mengerikanmenyedihkan. Iya, wanita itu sedang merasa tersiksa.
Pikirkan pilihan terbaik, itu menyelamatkanmu... bisik wanita itu. Aku menelan ludahku lagi, itu benar-benar mengerikan-terdengar seperti ancaman.
Saat aku mulai berani untuk menatap wanita itu, ia bergerak menjauh. Si..si..siapa kau?! teriakku terbata-bata. Tapi wanita itu tetap menjauh. Aku mengikutinyaakhirnya aku bisa bergerak kembali! Semakin aku mengejarnya, semakin samar pula wanita itu. Mulanya wanita itu bagaikan bayangan tembus pandang hingga akhirnya ia menghilang. Menghilang tepat ke dalam cermin.
Aku masih dapat melihatnya. Wanita itu masih mudamungkin saja seumuran dengankuwajahnya berbentuk oval hati, mukanya pucat, matanya berwarna hijau permata-seperti zamrud, bibirnya kecil, rambutnya berwarna cokelat perunggu yang ia sanggul namun sanggulannya sungguh berantakan. Tatapan wanita itu menggambarkan penderitaan sebelum akhirnya berubah menjadi tatapan ketakutan. Gaun yang dikenakan wanita itu berubah menjadi piama putih kotak-kotak hitam, akan tetapi bercak darah itu masih berada pada tempatnya. Mengerikan! Darah itu mengalir dari perutnya.
Refleks tanganku meraba perutku.
Tunggu! Ini tidak mungkin! Tidak! TIDAK MUNGKIN! INI TAK MUNGKIN TERJADI!
Wanita bergaun merah itu adalah... wanita yang terluka itu... wanita yang ada dalam cermin itu adalah... Aku...
*****
Suara teriakanku begitu lantang. Aku berteriak sejadi-jadinya. Demi Tuhan! Darah itu benar-benar mengalir dari perutku. Darah itu seakan-akan berasal dari luka tusukkan. Nafasku begitu cepat tak beraturan. Teriakanku masih menggema. Aku tak bisa menghentikan teriakan histeris ini. Aku benar-benar ketakutan.
Walaupun aku sudah meronta-ronta kesakitan, berteriak sekencang-kencangnya tetap saja tak ada yang datang menolong. Aku bersumpah jika aku masih berada dalam kamar. Mengapa orang tuaku tak datang menolong? Aku berteriak sekali lagi. Mereka tak kunjung datang.
Kupejamkan mataku. Mencoba menenangkan diri, aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya melalui mulut. Berulang kali aku melakukannya hingga rasa sakit itu menghilang. Perasaanku lebih tenang sekarang. Saatnya aku membuka mata.
Sialan! Apa-apaan ini? Tiba-tiba saja aku terduduk di ranjangku lengkap dengan selimut yang menyelimuti kaki. Mataku melirik ke sekitar kamar. Tak ada apa-apa. Semuanya normal. Bahkan tak ada bercak darah di lantai porselen depan cermintempat terakhir kali aku berada. Aku memegang perutku. Tidak ada darah mengalir. Aku pun tak merasa kesakitan. Aku melirik jam digital, pukul enam pagi. Tidak! Terakhir kali aku terbangun tadi itu pukul dua pagi!
Apa aku bermimpi? Aneh sekali. Jika itu mimpi tidak mungkin aku merasa sesadar tadi. Bahkan rasa sakit tusukkannya terasa nyata. Dan wanita itu... Ia benar-benar ada. Ia benar-benar datang menghantuiku. Satu hal, mengapa wanita itu mirip sekali denganku? Atau apakah benar wanita itu adalah aku? Apakah benar wanita itu adalah cerminan penderitaanku? Tetapi aku tak sedang menderita sekarang. Lalu apa maksud ucapannya? Aku tak mengerti dan tak mau mengerti.
*****
Aku buru-buru memakan sarapanku karena tak mau ketinggalan bis sekolah. Adik perempuanku, Julie, menatapku dengan tajam seakan-akan aku membuat kesalahan yang besar.
Aku dan Julie memang tak akur. Seringkali kami bertengkar-entah itu karena hal sepele atau besar-tetapi tak sekalipun Dad melerai kami. Ketika haloween, kami berebut kostum Jack o Latern yang sama. Kami bertengkar sambil berteriak tetapi Dad hanya diam saja tak berusaha untuk menghentikan adu mulut diantara kami. Kemudian tawa Dad tiba-tiba menggelegar seakan-akan kami adalah dua komedian yang sedang beraksi di atas panggung.  Entah mengapa kami berdua berhenti bertengkar. Jadi cara Dad melerai memang berbeda dari orang tua lainnya.
Semakin lama aku tak nyaman dengan sikap adikku yang masam.
"Apa masalahmu, huh?" Tanyaku ketus.
Julie meletakan garpu, "Kau berisik sekali tadi malam." Jantungku berhenti berdetak. Jadi itu hanya mimpi? Tapi itu terasa nyata.
"Memangnya ada apa denganku? Aku tak melakukan apa-apa." Kataku gusar.
"Kau berteriak seperti orang kesakitan. Kau gila." Balas Julie.
"Mengapa tak ada yang membangunkanku?"
"Kami akan membangunkanmu. Untunglah setelah kami datang suara teriakanmu berhenti." Jawab Mom dengan lembut.
"Tapi Mom, itu tetap menggangguku! Aku ada ulangan aljabar hari ini!" Julie terlihat sangat kesal.
"Aku'kan nggak sadar!" Balasku heboh.
"April! Julie! Hentikan! Kalian sudah besar. Berhenti bersikap kekanak-anakan!" Ujar Mom mengkuliahi kami.
"Tapi Mom..." Keluh kami berdua berbarengan. Tiba-tiba saja Dad bertepuk tangan. "Wow! Lihat! Kalian sungguh kompak. Luar biasa." Dad pun menyunggingkan senyum.. Senyuman licik.
  Julie menggebrak meja. Ia pergi mengambil mantel dan syal kemudian ia membanting pintu rumah tanpa berpamitan pada siapapun. Aku menatap Dad seolah-olah ia yang bersalah. Well, Julie berusia empat belas tahun dan ia murid tahun pertama di sekolah. Maklum saja jika Julie masih labil.
Aku tak menyusul Julie karena itu akan memperburuk masalah. Ia membutuhkan waktu 'tanpa April'.
Aku menciup pipi kedua orang tuaku sebelum akhirnya pergi ke halte bis. Aku mengenakan mantel berwarna pitch plus menggenggam sweater Lucas. Aku berencana mengembalikannya sepulang sekolah.
Tidak ada bis di halte dan aku datang kepagian. Aku membaca novel Pride and Prejudice sembari menunggu. Pikiranku tak fokus pada novel karena aku sedang cemas. Bukan mencemaskan Julie yang tak muncul di halte-mungkin Julie berjalan kaki-melainkan cemas akan mimpiku.
Seumur hidup aku tak pernah merasakan mimpi yang senyata tadi malam. Rasa sakit tusukan itu benar ada dan darah itu benar-benar mengalir membasahi tanganku. Aku tak tahu mengapa aku mendapat mimpi itu. Mungkinkah sebagai pertanda sesuatu? Tidak. Aku tak percaya pada hal-hal spiritual. Jalan terbaik adalah  melupakan dan mengubur mimpi itu.
Aku mengerjap kaget. Suara klakson mobil menyadarkanku kembali. Tetapi aku lebih kaget ketika mengetahui siapa yang mengklaksoniku.
Mobil sedan Toyota Corolla berwarna biru kehitaman keluaran tahun 2004 menyisi di tempat pemberhentian bus. Aku memicingkan mataku berusaha melihat dengan jelas siapa orang yang mengemudikan mobil itu. Siapa tahu prasangkaku tak tepat. Ternyata aku tak keliru.
"Butuh tumpangan?" Ujar Tom. Aku tak mengedipkan mata, aku melongo seperti orang tolol ketika melihat senyuman Tom. "Ayo naik, Ap. Memangnya kau tak kedinginan menunggu bis, ya?" Sambung Tom. Aku menggeleng bukan menjawab pertanyaan Tom tetapi menggeleng karena tak menyangka sikap Tom.
Tom keluar dari mobilnya. Ia berdiri dihadapanku yang terdiam seperti patung. Tom memegang kedua bahuku sambil menundukkan kepalanya. Mata kami bertemu kembali. Tatapan Tom seakan-akan mengunci mataku. "Ayolah, Ap. Kau tak mau terlambat'kan?" Bujuk Tom lagi.
Tangan Tom menarik lenganku supaya mengikutinya. Tom membukakan pintu mobil. Sebelum aku masuk, tatapanku pada Tom seakan-akan mengatakan, "Ada apa denganmu, man?"
"Jika polisi melihat mobilmu disini aku yakin kau akan terkena masalah." Gumamku.
Tom terkekeh, "Dasar sok tahu."
Di dalam mobil hanya terdengar suara musik yang memecah kesunyian. Tapi kesunyian itu pecah saat Tom tiba-tiba saja tertawa sendiri. Apa yang ia pikirkan sih? Apa ia sedang mengingat kejadian dua tahun lalu?  Saat itu pertama kalinya Tom mengendarai mobil ini bersamaku. Tom tak tahu jika aku tak suka pengendara yang mengebut. Sepanjang jalan aku mengoceh padanya. Kukira Tom akan membunuhku. Selain karena kelajuannya tidak wajar, Tom terkadang memperhatikan wajahku-itu sebenarnya membuatku salah tingkah.
"Perhatikan jalan, Tom!" Omelku ketika Tom mulai melirik wajahku.
"Well, kapan terakhir kali kau menaiki mobilku?" Tanya Tom.
Tatapanku mengaku pada Tom. Senyum Tom seketika memudar, wajahnya menjadi serius. "Aku rasa saat kau pertama kali membeli mobil ini. Aku lupa." Dustaku. Padahal selama ini aku selalu mengingat hal-hal yang aku lalui bersama Tom.
Aku mengalihkan perhatianku dengan melihat pemandangan jalanan melalui kaca jendela mobil. Aku merasa aku telah gagal. Mengapa saat aku benar-benar ingin melupakan sesuatu yang pahit-manis-tapi hal yang harus aku lupakan datang begitu saja? Mengapa hal yang ingin aku jauhi tiba-tiba mendekatiku?
"Trims, Tom." Ujarku pada Tom. Tom mengangguk dan tersenyum. Kami berjalan bersama menuju kelas masing-masing. Di depan pintu sekolah kami betemu dengan Toby, sahabat Tom.
Toby menatap tak percaya. Sumpah pramuka! Mulut Toby terbuka dengan lebar dan matanya sama sekali tak berkedip. Kami menyapa Toby berbarengan seolah tak terjadi apa-apa. Aku rasa Toby semakin bingung dengan keganjalan ini. Aku pun tak mengerti apa yang kami lakukan sekarang.
"Aku duluan, ya." Pamitku pada Tom dan Toby. Aku masih bisa mendengar pertanyaan Toby pada Tom mengenai apa yang terjadi meskipun aku sudah sepuluh langkah meninggalkan mereka. Tak diragukan lagi jalan pikiran Toby sama halnya dengan Camille ketika melihat kami berdua bersama.
Aku mempercepat langkahku. Berhasil, suara itu memudar.
Setibanya di loker, aku menaruh mantelku. Lokerku bersebelahan dengan loker Ariane Maltrose, temanku di kelas biologi. Ia menyapaku dengan ramah dan aku membalasnya dengan senyum kaku. Tak biasanya ia terlihat senang luar biasa.
"Ada murid baru, lho." Katanya tiba-tiba.
"Oh ya?" Aku mencoba merespon seantusias mungkin.
"Cowok lagi. Katanya sih keren." Kata Ariane sambil membenahi rambut pirang sebahunya. Aku heran mengapa Ariane terlihat senang sekali?
Bel pun berbunyi, kami berjalan bersama memasuki kelas biologi. Langkah Ariane berbeda dari hari sebelumnya. Ia melompat-lompat kecil seperti anak kecil yang baru saja diberi balon.
Semua kelas tak aku ikuti dengan baik. Rata-rata aku melamun di dalam kelas. Ariane sempat menendang kakiku saat Mrs. Lamore menjelaskan dan bertanya padaku. Untung saja aku dapat menjawabnya.
Saat bel makan siang aku buru-buru keluar kelas. Aku tak menaruh bukuku dulu melainkan langsung menuju kantin. Camille sudah duduk di meja kantin sambil memakan burger dan salad jagung. Cepat-cepat aku menuju Camille karena ia orang yang aku butuhkan sekarang.
"Kau tak makan?" Tanyanya sambil mengunyah. Aku menggeleng. Nafsu makanku semakin menghilang ketika melihat makanan yang menumpuk pada nampan makan Camille. Menjijikan. Tidak, biasanya Camille banyak makan karena ada hal yang tak beres.
Mataku menatap Camille serius sampai-sampai ia meletekan burgernya di nampan. Ia menelan makanannya. Tatapan Camille seakan-akan mengerti dengan apa yang ingin aku katakan. "Aku juga, Ap." Katanya tiba-tiba.
"Jadi, kau tahu apa maksudnya?" Kataku setelah kami bertukar cerita mengenai mimpi menyeramkan. Camille terkejut sekali mendengarnya. Ia kira hanya ia saja yang mengalami hal-hal aneh. Camille mengalami mimpi yang sama. Namun secara berbeda.
Camille berada di padang rumput yang sama ketika ia sedang kehilangan jiwanya, begitulah istilahnya. Disana ia tak melihat Lucas. Ia hanya sendirian mengenakan gaun Victory. Padang rumput itu rasanya tak asing, bahkan ia berani bertaruh bahwa ia merasa bahagia disana. Sebelum akhirnya langit berubah menjadi gelap. Suara teriakan penderitaan memenuhi liang telinganya. Tak hanya suara jeritan wanita, terdengar pula suara jeritan pria yang lebih menyedihkan. Tiba-tiba ia melihat gadis yang berlumuran darah-gadis yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Camille refleks berteriak keras meminta keluar dari dunia yang gelap. Lalu seseorang yang mirip sekali dengannya mendekatinya sambil mengucapkan mantra-mantra yang aneh sebelum akhirnya ia terbangun.
Begitulah cerita Camille. Bulu kudukku meremang mendengar ceritanya. Apa jangan-jangan gadis yang ada dimimpinya adalah aku? Tapi mengapa aku?
"Boo!" Suara itu berhasil membuatku dan Camille berteriak keras. Toby sialan!
"Serius amat sih." Katanya kemudian mengambil keripik kentang Camille yang belum dibuka. Sembari mengunyah keripik yang ia curi, ia menunggu jawaban dari kami.
Tom tiba-tiba bergabung dengan kami, menyapaku sembari menyunggingkan senyum. Aku bertukar pandangan dengan Camille.
Sekarang aku tak dapat membedakan mana kehidupan nyata mana mimpi. Semuanya terasa sama saja. Mengerikan atau menakjubkan.

~~~~~

No comments:

Post a Comment