Aku melirik jam tangan
cokelatku. Sial! Aku lupa jika hari ini punya janji dengan seseorang yang pasti
akan mengomeliku jika aku datang terlambat. Aku kemudian berlari menuju tempat
tujuanku. Untunglah tempatnya tak jauh dari pantai.
Aku sadar
jika menunggu itu menyebalkan, tapi aku membuat seseorang menunggu. Berarti secara tidak langsung aku menyebalkan. Biasanya aku yang menunggu seseorang, tapi kali ini aku yang ditunggu. Memang benar jika dunia ini berputar.
Rambutnya berwarna merah
sebahu sedikit ikal, kulitnya sangat putih bersih tanpa ada bintik satupun,
mata biru shapire bulat besarnya menatapku tak percaya dan bibirnya yang lebar
sudah siap untuk mengomeliku.
Mimik wajahnya yang semula
terlihat kesal lambat laun menjadi kebingungan. Bukan karena aku terlambat,
tetapi karena penampilanku yang benar-benar kacau. Seakan-akan aku baru saja
menghadang badai tornado.
Aku menyunggingkan senyum jail
padanya. Ia adalah Camille Bennet, sahabatku sejak SD. Kami berencana bermain
sepuasnya di taman hiburan musim gugur dekat dermaga pantai Aiki hari ini. Jadi
bila memungkinkan kami datang sepagi mungkin.
Camille meminta penjelasan
padaku mengenai penampilanku yang sangat mengerikan. Aku membekap mulut Camille
sebelum ia sempat bertanya kembali. Dengan sigap kutarik tangan Camille untuk
segera membeli karcis taman hiburan sehingga aku bisa mengganti pakaianku yang
lembab. Beruntung aku mengenakan rok tiga perempat berwarna biru gelap sehingga
lebih cepat kering dibandingkan dengan jeans denim.
Pedagang baju cendramata
melihatku dengan pandangan mengejek. Itu sih sudah biasa. Di sekolah aku bisa
menghadapi yang lebih parah dari pedagang itu.
Aku terpaksa membeli t-shirt
bergambar badut berhidung merah dengan tulisan 'Springladaland' karena tak ada
t-shirt yang lebih layak untuk dibeli. Camille terkekeh melihatku mengenakan
t-shirt itu. Aku memutar kedua bola mataku. Untuk menutupi gambar badut konyol
yang berada tepat di dadaku, aku mengenakan sweater orang asing tadi. Tawa
Camille pecah karena sweater itu benar-benar kebesaran bagi badanku yang, well,
slim. Sebenarnya dalam pikiranku Camille terlihat lebih konyol karena hampir
setiap saat Camille mengenakan t-shirt yang bergambar Smurf.
Camille mengajakku untuk
menaiki wahana permainan ayunan bajak laut ekstrem. Tentu saja aku menolak.
Bukan karena aku takut tetapi karena aku belum sarapan. Jadi sebelum menaiki
wahana apapun aku meminta Camille untuk mencari makanan terlebih dahulu.
Setelah pesananku
matang-Camille pun ikut memesan-kami duduk di bangku taman dekat wahana
permainan berhadiah sambil menyantap waffle cokelat. Aku sangat lapar tapi
Camille lebih lagi. Well, nafsu makan Camille memang lebih banyak
dibandingkanku tak heran jika badannya sedikit berisi-bukan berarti ia gemuk.
Beberapa detik kemudian
Camille tersedak. Aku menepuk pundaknya agar ia tenang. Tak lama setelah itu
giliranku yang tersedak lebih parah dibandingkan Camille. Kami berdua tersedak
dan tak ada yang menolong. Hingga akhirnya datang seseorang yang menawarkan
sebotol air mineral. Aku sempat tegang menatap mata orang yang berbaik hati
menawari kami. Rasanya tubuhku meleleh setiap kali menatap mata cokelat
keemasan cowok yang berada di tepat di hadapanku. Rambutnya yang berwarna
cokelat hampir kepirangan bagaikan sehelai kain sutra yang rasanya ingin aku
sentuh. Senyuman manis khasnya seakan membuat jarum jam berhenti berputar.
Aku buru-buru menggelengkan
kepala sekaligus menghentikan perasaan yang seharusnya sudah hilang. Tidak
mungkin aku harus menyukai orang yang sama selama hampir tiga tahun. Bayangkan
saja! Itu memuakan.
Camille hampir saja
mendapatkan air mineral itu tetapi jemari tanganku lebih sigap dibandingkan
dirinya. Jadilah ia harus menunggu giliran. Dengan terbatuk-batuk Camille
menatap tingkah lakuku yang salah tingkah. Bagaimana bisa Camille tak
mengetahuinya? Nafasku tak beraturan, jemariku gemetaran, dan mataku yang
tertutup sembari meminum air yang sebenarnya sebagai salah satu bentuk
penenangan diri akibat cowok yang aku sukai berada tepat di hadapanku.
Lupakan dia. Masa lalu. Kau
sekuat batu sekarang, ia tak dapat merobohkan perasaanmu lagi, kata batinku.
Mataku kemudian terbuka. Wajah tampan itu masih berada tepat dihadapanku.
Sekarang wajah itu dihiasi oleh tawa kecil. Kuteguk sisa air yang masih ada
dalam mulutku.
Cowok itu tiba-tiba saja duduk
disebelahku. Kemana Camille? pikirku kepalaku menengok kesana kemari. Ketika
menyadari Camille menghilang perasaan gugup kesal bercampur aduk. Camille
membuat situasinya semakin sulit. Penghianat.
"Hai, Tom." Sapaku
canggung.
"Hai, April," Balas
Tom. "Sweater yang bagus." Sambungnya sembari tersenyum mengejek. Aku
menundukan kepala karena tak kuat melihat wajah Tom. "Sepertinya Camie
melarikan diri demi mencari setetes air." Kata Tom sembari tertawa kecil.
Aku menatap Tom dengan bingung. "Aku rasa kau hampir membuatnya mati
tersedak-kau menghabiskan seluruh air dalam botol itu." Terdengar nada
bercanda ketika Tom berbicara. Aku mengalihkan pandanganku ke botol kosong yang
aku pegang. Kami saling berpandangan sebelum akhirnya menertawakan hal konyol
yang aku lakukan.
Camille mungkin tak akan
kembali ke bangku ini. Sudah sepuluh menit kami menunggu sembari terdiam canggung.
Sialnya bagiku memiliki masalah bersikap bila berada di dekat orang yang aku
sukai. Tapi itu dulu, jadi seharusnya aku bisa mengatur sikap.
"Well, Camie tak datang.
Aku harus mencarinya." Gumamku sembari bangkit.
"Tunggu," Tom
berhasil membuatku membalikan wajah menghadapnya. "aku ikut
denganmu." Sambung Tom. Kepalaku sudah tak tahan untuk menggeleng tetapi
aku tak bisa. Kepalaku pun mengangguk setuju.
Tom dan aku mencari Camille
hampir ke seluruh arena di taman hiburan. Kami sudah berkeliling bahkan menaiki
beberapa wahana ekstrem-yang aku benci- demi mencari Camille. Camille hebat
sekali, kami tak dapat menemukannya. Aku sempat mengira bahwa Camille pulang
meninggalkanku. Itu mustahil karena ia sudah membeli karcis untuk bermain di
taman ini.
Dengan canggung aku berjalan
berdampingan dengan Tom. Aku sadar jika Tom memandang diriku sejak tadi. Ini
membuatku semakin tak nyaman. Ini terlalu berbahaya untuk perasaanku. Aku tak
mau lagi jatuh ke dalam lubang hitam yang menyakitkan. Aku tak boleh membuka pintu
hatiku. Aku harus segera membuang kunci pintu itu dan melupakannya secepat yang
aku bisa.
Tom sempat berbicara beberapa
kalimat padaku. Tom merasa senang karena hari ini ia dapat bermain di taman
hiburan walaupun itu tak disengaja. Mulanya Tom hanya ingin menemani sepupunya
yang masih berusia sepuluh tahun. Ternyata sepupunya tak datang. Ia tak mau
datang sia-sia jadi ia lanjutkan bermain di taman ini. Aku tersenyum kaku
mendengar alasan Tom. Tapi senyum kaku itu berubah menjadi kagum ketika Tom mengajakku
menaiki wahana kincir angin.
Saat berada di puncak aku bisa
melihat pemandangan kota dan laut yang sangat indah di siang hari. Meskipun
sedikit tertutup oleh kabut, tapi pemandangannya benar-benar cantik. Semuanya
seakan miniatur kota yang sengaja ditata serapi mungkin. Laut biru yang sangat
indah seakan menjadi cerminan langit yang luas.
Aku memang pecinta pemandangan alam. Jika aku
mampu aku akan menaiki puncak Gunung Everest dan sepuasnya aku akan menikmati
pemandangan sangat indah disana.
Tom tersenyum kembali ketika
menatapku. Dibalik senyuman Tom yang tulus-sepertinya-aku bisa merasakan ada
yang aneh darinya. Well, tak biasanya Tom tersenyum padaku. Biasanya sikap Tom
sangat dingin hingga menyiksa perasaanku. Bertemu di lorong sekolah sekali pun
Tom tak pernah menyapaku.
Tom tampan-dimataku-badannya
proposional dan tinggi, rahangnya tirus dan kaku, ia benar-benar pria idamanku
meskipun sebagian temanku mengatakan jika ketampanan Tom berkurang karena ia
pendiam, selalu mengenakan tudung jaketnya, dan ia terlalu sering memasang
earphone-entah musiknya menyala atau tidak. Berbeda dengan sekarang. Meskipun
Tom memakai jaket cokelat kotak-kotak yang bertudung tetapi ia tak memakai
tudungnya bahkan ia sama sekali tak menyalakan musik dari Ipod.
Lamunanku buyar ketika melihat
sosok yang mirip dengan Camille sedang menonton pertunjukan boneka tangan.
Mengapa tak terpikir sebelumnya olehku? Seharusnya aku menaiki wahana ini sejak
awal karena dari ketinggian kemungkinan besar aku dapat menemukan Camille. Setelah
sampai di dasar, aku melangkah secepat yang aku bisa. Aku tak mau lagi berpisah
dari Camille. Hanya Camille yang dapat mengeluarkanku dari situasi ini. Aku tak
ingin berlama-lama bersama Tom.
"April, tunggu." Aku
sengaja berbalik dan menatap Tom dengan kesal.
"Bisakah kita memainkan
games ini?"
"Tapi Camille..."
Tom mendekatiku. Jari telunjuknya yang dingin menempel pada bibirku.
"Sebentar saja." Bisik Tom. Aku pun mengangguk. Sial! Camille bisa
menghilang lagi.
Tom bermain games pukul palu.
Dengan bersemangat ia mengangkat palu besar itu kemudian memukulnya kuat-kuat.
Ia mendapat poin sempurna! Penjaga stand itu pun memberi hadiah pada Tom.
Jangan bayangkan hadiahnya seperti boneka beruang yang besar atau gantungan
kunci. Hadiahnya berupa permen atau es krim. Karena Tom mendapat skor sempurna,
maka ia berhak memilih apa saja.
"Silahkan pilih dua. Satu
untuk pacarmu. Gratis." Ujar penjaga stand dengan kumis menutupi senyum
menjijikannya. Pipiku memerah. Kami sempat saling bertatapan tapi kemudian aku
mengalihkannya. Tom dengan bangga memberikanku gulali kapas yang besar.
"Trims." Ujarku
malu-malu. Tom tersenyum mengejek padaku.
"Aku tahu apa yang kau
pikirkan." Ujar Tom.
"Apa itu? Beritahu aku
tuan sok tahu!" senyum menggoda tersungging begitu saja dari bibirku.
Mimik wajah Tom seperti
seseorang yang berpikir keras sembari memakan gulali kapas. Aku mengangkat
sebelah halis seolah ingin tahu.
"Kau orang yang penuh
rasa cemas. Sekarang kau sedang mencemaskan... Camille. Ooh tidak, kau sedang
mencemaskanku!" Ujarnya dengan mulut yang penuh gulali kapas kemudian
tertawa lepas. Ia seperti anak kecil yang menemukan lelucon baru. Tawanya
disambut oleh tawaku yang dipaksakan. Setelah itu aku menelan ludahku karena tak
tahu harus berbuat apa.
"Apa aku semudah itu
ditebak?" Kataku basa-basi.
“Kau sebenarnya tipe cewek yang sulit ditebak, tapi terkadang kau mudah sekali ditebak. Kau itu benar-benar labil,” Komentar Tom menanggapi
basa-basiku. Bibirku tersenyum lebar. “Tapi kau itu aneh,” Sambungnya. Seketika bibirku berubah melengkung ke bawah. Tapi Tom tertawa melihat ekspresi konyolku. “Baiklah, maksudku seleramu
aneh. Disaat orang-orang mencari sesuatu hal yang modern, kau malah mencari
sesuatu yang kolot.” Aku menggigit bibir bawahku karena gugup. Jika
saja aku mendapat kesempatan untuk melarikan diri, aku akan melarikan diri sekarang juga.
Aku berpikir keras
bagaimana caranya mencari jalan keluar. Tentu saja Camille tak dapat membantuku karena keberadaannya entah
dimana. Pembicaraanku dengan Tom sudah tidak rasional lagi. Jika ini terus
berkelanjutan bisa-bisa rencanaku untuk move
on bisa gagal.
“Jadi, bagaimana?” ujar Tom tiba-tiba. Daritadi aku tak memperhatikan omongannya. Aku menatapnya bingung. “Baiklah, rasanya itu tak penting.” Sambung Tom kemudian tersenyum mengejek padaku.
Kami terus berjalan mencari-cari Camille.
Aku mempercepat langkahku menuju tempat pertunjukan boneka tangan. Tom
menyesuaikan langkahnya dengan langkahku yang tergesa-gesa. Akhirnya kami
menemukan Camille yang sedang tertawa menonton pertunjukkan boneka tangan yang
penontonnya didominasi oleh anak-anak berusia lima tahun.
"Camille! Kami mencarimu
kemana-mana." Omelku pada Camille.
"Mengapa kalian tak menghubungi
ponselku saja?" Camille masih menikmati pertunjukan.
Aku menarik nafas dalam-dalam,
"Ponselku rusak akibat kejadian-lupakanlah-Tom nggak punya nomer
ponselmu."
Mata Camille langsung tertuju pada tanganku. Camille
terkekeh melihatnya sampai akhirnya tertawa puas. Tom berdeham, aku menatap
Camille dan Tom secara bergantian.
"Kalian kembali
berpacaran,huh?" Goda Camille. Pipi Tom semakin pucat namun ia tersenyum.
Aku yang baru menyadarinya buru-buru melepaskan tanganku yang bertautan dengan
tangan Tom. Aku menggelengkan kepala begitu pun dengan Tom. Terdengar suara
tawa Tom karena sikapku yang konyol.
“OK, kau sudah menemukan Camille. Saatnya
aku pergi." Kedua tangan Tom memegang bahuku, ia menundukkan kepalanya
sehingga aku dapat melihat jelas tatapan matanya. "Semoga akhir pekan kalian menyenangkan.” Camille melayangkan tatapan tak percaya pada Tom. Kemudian ia membalasnya terbata-bata, “Kau juga, Tom!”
Tom pergi. Sembari berjalan ia mulai
mengenakan tudung jaket dan memasang earphone pada kupingnya. Aku seperti
melihat kembali Tom yang biasa aku lihat di sekolah-Tom yang misterius, dingin,
dan kaku. Bukan Tom yang aku mengerti seperti tadi-tidak asing.
Jeritan Camille yang melengking membuat
jantungku berhenti berdetak. Muka Camille pucat sekali. Penyebabnya tak lain
karena boneka penyihir dengan wajah yang penuh bekas luka dan rambut yang
berantakan serta pakaian berwarna hitam panjang. Boneka itu cukup menyeramkan
bagi anak-anak-bahkan bagi mereka yang sudah remaja. Tapi aku tak memedulikan
hal itu lagi, yang terpenting
adalah aku terbebas dari Thomas Frost!
~~~~~
No comments:
Post a Comment