Tuesday, February 18, 2014

Chapter 2 : Unquality Time Together

Aku melirik jam tangan cokelatku. Sial! Aku lupa jika hari ini punya janji dengan seseorang yang pasti akan mengomeliku jika aku datang terlambat. Aku kemudian berlari menuju tempat tujuanku. Untunglah tempatnya tak jauh dari pantai.
Aku sadar jika  menunggu itu menyebalkan, tapi aku membuat seseorang menunggu. Berarti secara tidak langsung aku menyebalkan. Biasanya aku yang menunggu seseorang, tapi kali ini aku yang ditunggu. Memang benar jika dunia ini berputar.
Rambutnya berwarna merah sebahu sedikit ikal, kulitnya sangat putih bersih tanpa ada bintik satupun, mata biru shapire bulat besarnya menatapku tak percaya dan bibirnya yang lebar sudah siap untuk mengomeliku.
Mimik wajahnya yang semula terlihat kesal lambat laun menjadi kebingungan. Bukan karena aku terlambat, tetapi karena penampilanku yang benar-benar kacau. Seakan-akan aku baru saja menghadang badai tornado.
Aku menyunggingkan senyum jail padanya. Ia adalah Camille Bennet, sahabatku sejak SD. Kami berencana bermain sepuasnya di taman hiburan musim gugur dekat dermaga pantai Aiki hari ini. Jadi bila memungkinkan kami datang sepagi mungkin.
Camille meminta penjelasan padaku mengenai penampilanku yang sangat mengerikan. Aku membekap mulut Camille sebelum ia sempat bertanya kembali. Dengan sigap kutarik tangan Camille untuk segera membeli karcis taman hiburan sehingga aku bisa mengganti pakaianku yang lembab. Beruntung aku mengenakan rok tiga perempat berwarna biru gelap sehingga lebih cepat kering dibandingkan dengan jeans denim.
Pedagang baju cendramata melihatku dengan pandangan mengejek. Itu sih sudah biasa. Di sekolah aku bisa menghadapi yang lebih parah dari pedagang itu.
Aku terpaksa membeli t-shirt bergambar badut berhidung merah dengan tulisan 'Springladaland' karena tak ada t-shirt yang lebih layak untuk dibeli. Camille terkekeh melihatku mengenakan t-shirt itu. Aku memutar kedua bola mataku. Untuk menutupi gambar badut konyol yang berada tepat di dadaku, aku mengenakan sweater orang asing tadi. Tawa Camille pecah karena sweater itu benar-benar kebesaran bagi badanku yang, well, slim. Sebenarnya dalam pikiranku Camille terlihat lebih konyol karena hampir setiap saat Camille mengenakan t-shirt yang bergambar Smurf.
Camille mengajakku untuk menaiki wahana permainan ayunan bajak laut ekstrem. Tentu saja aku menolak. Bukan karena aku takut tetapi karena aku belum sarapan. Jadi sebelum menaiki wahana apapun aku meminta Camille untuk mencari makanan terlebih dahulu.
Setelah pesananku matang-Camille pun ikut memesan-kami duduk di bangku taman dekat wahana permainan berhadiah sambil menyantap waffle cokelat. Aku sangat lapar tapi Camille lebih lagi. Well, nafsu makan Camille memang lebih banyak dibandingkanku tak heran jika badannya sedikit berisi-bukan berarti ia gemuk.
Beberapa detik kemudian Camille tersedak. Aku menepuk pundaknya agar ia tenang. Tak lama setelah itu giliranku yang tersedak lebih parah dibandingkan Camille. Kami berdua tersedak dan tak ada yang menolong. Hingga akhirnya datang seseorang yang menawarkan sebotol air mineral. Aku sempat tegang menatap mata orang yang berbaik hati menawari kami. Rasanya tubuhku meleleh setiap kali menatap mata cokelat keemasan cowok yang berada di tepat di hadapanku. Rambutnya yang berwarna cokelat hampir kepirangan bagaikan sehelai kain sutra yang rasanya ingin aku sentuh. Senyuman manis khasnya seakan membuat jarum jam berhenti berputar.
Aku buru-buru menggelengkan kepala sekaligus menghentikan perasaan yang seharusnya sudah hilang. Tidak mungkin aku harus menyukai orang yang sama selama hampir tiga tahun. Bayangkan saja! Itu memuakan.
Camille hampir saja mendapatkan air mineral itu tetapi jemari tanganku lebih sigap dibandingkan dirinya. Jadilah ia harus menunggu giliran. Dengan terbatuk-batuk Camille menatap tingkah lakuku yang salah tingkah. Bagaimana bisa Camille tak mengetahuinya? Nafasku tak beraturan, jemariku gemetaran, dan mataku yang tertutup sembari meminum air yang sebenarnya sebagai salah satu bentuk penenangan diri akibat cowok yang aku sukai berada tepat di hadapanku.
Lupakan dia. Masa lalu. Kau sekuat batu sekarang, ia tak dapat merobohkan perasaanmu lagi, kata batinku. Mataku kemudian terbuka. Wajah tampan itu masih berada tepat dihadapanku. Sekarang wajah itu dihiasi oleh tawa kecil. Kuteguk sisa air yang masih ada dalam mulutku.
Cowok itu tiba-tiba saja duduk disebelahku. Kemana Camille? pikirku kepalaku menengok kesana kemari. Ketika menyadari Camille menghilang perasaan gugup kesal bercampur aduk. Camille membuat situasinya semakin sulit. Penghianat.
"Hai, Tom." Sapaku canggung.
"Hai, April," Balas Tom. "Sweater yang bagus." Sambungnya sembari tersenyum mengejek. Aku menundukan kepala karena tak kuat melihat wajah Tom. "Sepertinya Camie melarikan diri demi mencari setetes air." Kata Tom sembari tertawa kecil. Aku menatap Tom dengan bingung. "Aku rasa kau hampir membuatnya mati tersedak-kau menghabiskan seluruh air dalam botol itu." Terdengar nada bercanda ketika Tom berbicara. Aku mengalihkan pandanganku ke botol kosong yang aku pegang. Kami saling berpandangan sebelum akhirnya menertawakan hal konyol yang aku lakukan.
Camille mungkin tak akan kembali ke bangku ini. Sudah sepuluh menit kami menunggu sembari terdiam canggung. Sialnya bagiku memiliki masalah bersikap bila berada di dekat orang yang aku sukai. Tapi itu dulu, jadi seharusnya aku bisa mengatur sikap.
"Well, Camie tak datang. Aku harus mencarinya." Gumamku sembari bangkit.
"Tunggu," Tom berhasil membuatku membalikan wajah menghadapnya. "aku ikut denganmu." Sambung Tom. Kepalaku sudah tak tahan untuk menggeleng tetapi aku tak bisa. Kepalaku pun mengangguk setuju.
Tom dan aku mencari Camille hampir ke seluruh arena di taman hiburan. Kami sudah berkeliling bahkan menaiki beberapa wahana ekstrem-yang aku benci- demi mencari Camille. Camille hebat sekali, kami tak dapat menemukannya. Aku sempat mengira bahwa Camille pulang meninggalkanku. Itu mustahil karena ia sudah membeli karcis untuk bermain di taman ini.
Dengan canggung aku berjalan berdampingan dengan Tom. Aku sadar jika Tom memandang diriku sejak tadi. Ini membuatku semakin tak nyaman. Ini terlalu berbahaya untuk perasaanku. Aku tak mau lagi jatuh ke dalam lubang hitam yang menyakitkan. Aku tak boleh membuka pintu hatiku. Aku harus segera membuang kunci pintu itu dan melupakannya secepat yang aku bisa.
Tom sempat berbicara beberapa kalimat padaku. Tom merasa senang karena hari ini ia dapat bermain di taman hiburan walaupun itu tak disengaja. Mulanya Tom hanya ingin menemani sepupunya yang masih berusia sepuluh tahun. Ternyata sepupunya tak datang. Ia tak mau datang sia-sia jadi ia lanjutkan bermain di taman ini. Aku tersenyum kaku mendengar alasan Tom. Tapi senyum kaku itu berubah menjadi kagum ketika Tom mengajakku menaiki wahana kincir angin.
Saat berada di puncak aku bisa melihat pemandangan kota dan laut yang sangat indah di siang hari. Meskipun sedikit tertutup oleh kabut, tapi pemandangannya benar-benar cantik. Semuanya seakan miniatur kota yang sengaja ditata serapi mungkin. Laut biru yang sangat indah seakan menjadi cerminan langit yang luas.
 Aku memang pecinta pemandangan alam. Jika aku mampu aku akan menaiki puncak Gunung Everest dan sepuasnya aku akan menikmati pemandangan sangat indah disana.
Tom tersenyum kembali ketika menatapku. Dibalik senyuman Tom yang tulus-sepertinya-aku bisa merasakan ada yang aneh darinya. Well, tak biasanya Tom tersenyum padaku. Biasanya sikap Tom sangat dingin hingga menyiksa perasaanku. Bertemu di lorong sekolah sekali pun Tom tak pernah menyapaku.
Tom tampan-dimataku-badannya proposional dan tinggi, rahangnya tirus dan kaku, ia benar-benar pria idamanku meskipun sebagian temanku mengatakan jika ketampanan Tom berkurang karena ia pendiam, selalu mengenakan tudung jaketnya, dan ia terlalu sering memasang earphone-entah musiknya menyala atau tidak. Berbeda dengan sekarang. Meskipun Tom memakai jaket cokelat kotak-kotak yang bertudung tetapi ia tak memakai tudungnya bahkan ia sama sekali tak menyalakan musik dari Ipod.
Lamunanku buyar ketika melihat sosok yang mirip dengan Camille sedang menonton pertunjukan boneka tangan. Mengapa tak terpikir sebelumnya olehku? Seharusnya aku menaiki wahana ini sejak awal karena dari ketinggian kemungkinan besar aku dapat menemukan Camille. Setelah sampai di dasar, aku melangkah secepat yang aku bisa. Aku tak mau lagi berpisah dari Camille. Hanya Camille yang dapat mengeluarkanku dari situasi ini. Aku tak ingin berlama-lama bersama Tom.
"April, tunggu." Aku sengaja berbalik dan menatap Tom dengan kesal.
"Bisakah kita memainkan games ini?"
"Tapi Camille..." Tom mendekatiku. Jari telunjuknya yang dingin menempel pada bibirku. "Sebentar saja." Bisik Tom. Aku pun mengangguk. Sial! Camille bisa menghilang lagi.
Tom bermain games pukul palu. Dengan bersemangat ia mengangkat palu besar itu kemudian memukulnya kuat-kuat. Ia mendapat poin sempurna! Penjaga stand itu pun memberi hadiah pada Tom. Jangan bayangkan hadiahnya seperti boneka beruang yang besar atau gantungan kunci. Hadiahnya berupa permen atau es krim. Karena Tom mendapat skor sempurna, maka ia berhak memilih apa saja.
"Silahkan pilih dua. Satu untuk pacarmu. Gratis." Ujar penjaga stand dengan kumis menutupi senyum menjijikannya. Pipiku memerah. Kami sempat saling bertatapan tapi kemudian aku mengalihkannya. Tom dengan bangga memberikanku gulali kapas yang besar.
"Trims." Ujarku malu-malu. Tom tersenyum mengejek padaku.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Ujar Tom.
"Apa itu? Beritahu aku tuan sok tahu!" senyum menggoda tersungging begitu saja dari bibirku.
Mimik wajah Tom seperti seseorang yang berpikir keras sembari memakan gulali kapas. Aku mengangkat sebelah halis seolah ingin tahu.
"Kau orang yang penuh rasa cemas. Sekarang kau sedang mencemaskan... Camille. Ooh tidak, kau sedang mencemaskanku!" Ujarnya dengan mulut yang penuh gulali kapas kemudian tertawa lepas. Ia seperti anak kecil yang menemukan lelucon baru. Tawanya disambut oleh tawaku yang dipaksakan. Setelah itu aku menelan ludahku karena tak tahu harus berbuat apa.
"Apa aku semudah itu ditebak?" Kataku basa-basi.
Kau sebenarnya tipe cewek yang sulit ditebak, tapi terkadang kau mudah sekali ditebak. Kau itu benar-benar labil, Komentar Tom menanggapi basa-basiku. Bibirku tersenyum lebar. Tapi kau itu aneh, Sambungnya. Seketika bibirku berubah melengkung ke bawah. Tapi Tom tertawa melihat ekspresi konyolku. Baiklah, maksudku seleramu aneh. Disaat orang-orang mencari sesuatu hal yang modern, kau malah mencari sesuatu yang kolot. Aku menggigit bibir bawahku karena gugup. Jika saja aku mendapat kesempatan untuk melarikan diri, aku akan melarikan diri sekarang juga.
Aku berpikir keras bagaimana caranya mencari jalan keluar. Tentu saja Camille tak dapat membantuku karena keberadaannya entah dimana. Pembicaraanku dengan Tom sudah tidak rasional lagi. Jika ini terus berkelanjutan bisa-bisa rencanaku untuk move on bisa gagal.
Jadi, bagaimana? ujar Tom tiba-tiba. Daritadi aku tak memperhatikan omongannya. Aku menatapnya bingung. Baiklah, rasanya itu tak penting. Sambung Tom kemudian tersenyum mengejek padaku.
Kami terus berjalan mencari-cari Camille. Aku mempercepat langkahku menuju tempat pertunjukan boneka tangan. Tom menyesuaikan langkahnya dengan langkahku yang tergesa-gesa. Akhirnya kami menemukan Camille yang sedang tertawa menonton pertunjukkan boneka tangan yang penontonnya didominasi oleh anak-anak berusia lima tahun.
"Camille! Kami mencarimu kemana-mana." Omelku pada Camille.
"Mengapa kalian tak menghubungi ponselku saja?" Camille masih menikmati pertunjukan.
Aku menarik nafas dalam-dalam, "Ponselku rusak akibat kejadian-lupakanlah-Tom nggak punya nomer ponselmu."
 Mata Camille langsung tertuju pada tanganku. Camille terkekeh melihatnya sampai akhirnya tertawa puas. Tom berdeham, aku menatap Camille dan Tom secara bergantian.
"Kalian kembali berpacaran,huh?" Goda Camille. Pipi Tom semakin pucat namun ia tersenyum. Aku yang baru menyadarinya buru-buru melepaskan tanganku yang bertautan dengan tangan Tom. Aku menggelengkan kepala begitu pun dengan Tom. Terdengar suara tawa Tom karena sikapku  yang konyol.
OK, kau sudah menemukan Camille. Saatnya aku pergi." Kedua tangan Tom memegang bahuku, ia menundukkan kepalanya sehingga aku dapat melihat jelas tatapan matanya. "Semoga akhir pekan kalian menyenangkan. Camille melayangkan tatapan tak percaya pada Tom. Kemudian ia membalasnya terbata-bata, Kau juga, Tom!
Tom pergi. Sembari berjalan ia mulai mengenakan tudung jaket dan memasang earphone pada kupingnya. Aku seperti melihat kembali Tom yang biasa aku lihat di sekolah-Tom yang misterius, dingin, dan kaku. Bukan Tom yang aku mengerti seperti tadi-tidak asing.
Jeritan Camille yang melengking membuat jantungku berhenti berdetak. Muka Camille pucat sekali. Penyebabnya tak lain karena boneka penyihir dengan wajah yang penuh bekas luka dan rambut yang berantakan serta pakaian berwarna hitam panjang. Boneka itu cukup menyeramkan bagi anak-anak-bahkan bagi mereka yang sudah remaja. Tapi aku tak memedulikan hal itu lagi, yang terpenting adalah aku terbebas dari Thomas Frost!

~~~~~

No comments:

Post a Comment